Kamis, 27 September 2012

IGD (INTERNAL GROUP DISCUSSION) KE-3


MODUL IGD (INTERNAL GROUP DISCUSSION) KE-3
BIRO KAJIAN DAN PENDIDIKAN
BIDANG KEILMUAN HIMESBANG FE UNSOED 2012
BERSAMA BIDANG EKSEKUTIF HIMESBANG FE UNSOED
“ECONOMIC OVERHEATING (PEMANASAN EKONOMI) AKANKAH MENJADI ‘SANTAPAN’ AKHIR TAHUN INDONESIA?”

Konsep Masalah                    : Tri Sutrisno
Fokus Diskusi                        : Ekonomika Internasional
Tema Diskusi                         : “Economic Overheating (Pemanasan Ekonomi) Akankah
   Menjadi ‘Santapan’ Akhir Tahun Indonesia?”
Tujuan Diskusi                      : Untuk menganalisa apakah defisit neraca perdagangan akan
              berlangsung hingga akhir tahun dan dampak apa yang akan
              ditimbulkan.
Moderator                              : Staff Biro Kajian dan Pendidikan; Bidang Keilmuan
Ruang Lingkup                     : Nilai ekspor dan impor Indonesia, Kenaikan tingkat harga
                         (Inflasi), Cadangan devisa, neraca perdagangan Indonesia,
  perkembangan Foreign Direct Invesment (FDI) Indonesia,
  permintaan masyarakat Indonesia.

PENGENALAN MASALAH :

Penyebab: Indonesia merupakan salah satu favorit bagi investor global yang direfleksikan dengan derasnya aliran modal masuk ke perekonomian terbesar di Asia Tenggara dengan melimpahnya kekayaan sumber daya alam dan meningkatnya penduduk kelas menengah. Fakta menyebutkan bahwa dalam lima tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6% dan bahkan mengalami surplus neraca perdagangan seiring tingginya permintaan China dan India. Namun, sejak awal tahun 2012 kondisi neraca perdagangan memburuk dan hal ini diperburuk dengan penurunan harga komoditas. Kekhawatiran mengenai pemanasan ekonomi (economic overheating) di Indonesia meningkat akibat membengkaknya defisit transaksi berjalan.
Neraca perdagangan pada bulan Juni 2012 mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah bagi perdagangan Indonesia sebagai dampak melemahnya permintaan China dan Eropa. Nilai defisit neraca perdagangan Indonesia mencapai US$1,32 miliar yang diperoleh dari kinerja impor sebesar US$16,69 miliar dan ekspor sebesar US$15,36 miliar pada periode tersebut. Kinerja ekspor pada bulan Juni 2012 menurun sebesar 16,44% dibandingkan bulan yang sama di tahun 2011, sedangkan impor meningkat sebesar 10,71% dibandingkan tahun sebelumnya namun turun 2,05% dibandingkan bulan sebelumnya.
Akibat : Lebih lanjut, akibat defisit perdagangan, defisit neraca transaksi berjalan juga melebar akibat pelemahan ekonomi global. Defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2012 mencapai US$6,9 miliar (sebesar 3,1% PDB) dibandingkan dengan US$3,2 miliar (sebesar 1,5% PDB) pada kuartal I tahun 2012. Namun, di tengah memburuknya neraca transaksi berjalan, surplus neraca modal meningkat menjadi US$5,5 miliar (sebesar 2,5% PDB) pada triwulan II 2012. Kombinasi defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan menyebabkan depresiasi nilai tukar IDR terhadap USD yang mencapai 4,6% sejak awal tahun 2012 ini. Sejauh ini, IDR menunjukkan kinerja paling buruk jika dibandingkan dengan mata uang pada kawasan Asia Tenggara.
Analis valas Rahadyo Anggoro Widagdo menghawatirkan kondisi ini akan menekan market confidence dan dapat berakibat pada capital outflow yang akan semakin menekan nilai Rupiah, meskipun neraca pembayaran Indonesia diproyeksi surplus pada Semester II 2012 karena ditopang oleh Penanaman Modal Asing, investasi portfolio, dan penarikan hutang luar negeri, pemerintah harus tetap segera mengedepankan solusi untuk mencegah berlanjutnya defisit
Masalah : Kembali ke pertanyaan “Apakah ekonomi Indonesia mengalami pemanasan?” dengan mempertimbangkan melebarnya defisit transaksi berjalan dan melemahnya nilai tukar IDR terhadap USD?

KONSEPSI MASALAH :

Dodi Zulverdi, Direktur Statistik dan Ekonomi Moneter BI memperkirakan perlembaran defisit akan menyusut pada kuartal dua dan tiga mendatang karena didasarkan adanya indikasi ekspektasi kinerja ekonomi dunia mulai membaik meskipun tidak sebaik sebelum terjadi krisis yang tercermin dari real demand dunia dan harga komoditas yang mulai naik. Selain itu, surplus transaksi modal dan finansial juga akan lebih besar, baik dari PMA, investasi portofolio, maupun penarikan utang luar negeri.
Pada kuartal dua 2012 defisit transaksi berjalan melebar hingga mencapai 3,1% dari PDB (Produk Domestik Bruto) atau terbesar dalam sejarah. Defisit ini diakibatkan kinerja ekspor yang menurun di saat permintaan impor meningkat pesat.
Kendati transaksi modal dan finansial (TMF) mengalami keniakan surplus yang signifikan, jumlahnya tidak cukup untuk menutupi defisit transaksi berjalan sehingga secara keseluruhan NPI mengalami defisit. Cadangan devisa pada akhir kuartal dua 2012 tercatat sebesar US$106,5 miliar.
Di sisi lain tren defisit neraca perdagangan Indonesia selama empat bulan berturut-turut masih terus menghantui pemerintah. Kendati mulai menurunkan tren penurunan, diperkirakan masih berlanjut sebagai proses transformasi dari pertumbuhan ekonomi dari pertumbuhan yang rendah ke taraf menengah dan tinggi.
Wakil Menteri Keuangan, Mahendra Siregar, mengatakan terlalu dini menyimpulkan defisit neraca perdagangan sudah melewati puncaknya pada bulan Juni lalu sebab perekonomian Indonesia yang tumbuh relatif rendah kini menuju pertumbuhan dengan skala ekonomi 1 triliun dollar AS ke atas.
Apalagi dalam proses transformasi itu, kondisi ekonomi global tengah lesu sehingga perlu ada penyesuaian tersendiri bagi setiap negara. Dengan kondisi Indonesia saat ini transaksi berjalan maupun neraca perdagangan untuk saat ini memang dalam kondisi berimbang. Kadang mengalami sedikit defisit atau mengalami surplus kecil. Ini gambaran perekonomian Indonesia di tengah krisis global

Perubahan Berkelanjutan
Menurut Mahendra ---defisit neraca perdagangan tidak akan menjadi persoalan dengan catatan neraca pembayaran Indonesia secara keseluruhan bisa dijaga kesehatannya sehingga neraca pembayaran Indonesia tidak lagi bergantung pada neraca perdagangan tetapi lebih kepada neraca jasa dan neraca modal.---
Solusi yang ditawarkan Mahendraà Kita perlu menjaga perubahan yang berkelanjutan di semua sektor mulai dari sektor riil sampai sektor keuangan sehingga tidak ada 'konslet'.
Kepala ekonom Dana Reksa Reserch Institute, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan masih negatifnya tren perdagangan Indonesia merupakan hal yang biasa akibat permintaan global dan dari sisi domestiknya masih loyal karena investor asing banyak masuk sehingga otomatis ekspansi impor barang kapital dan barang baku juga meningkat.
"Biasanya Agustus, September, dan Oktober ada peluang ekspor cenderung lebih baik dibandingkan paro pertama, tetapi bergantung dari globalnya memburuk atau justru mengalami perbaikan. Kalau global cenderung negatif maka kemungkinan kita tidak bisa melihat neraca perdagangan yang positif," ungkap Purbaya.
Sementara itu, defisit dari neraca perdagangan dan transaksi berjalan yang dinilai sebagian kalangan Indonesia sudah masuk ke dalam gejala overheating dibantah oleh Menteri Keuangan, Agus Martowardojo. Gejala overheating atau kepanasan ekonomi paparnya, belum terjadi, karena pemerintah terus mewaspadai gejolak ekonomi global.
Bagaimana analisis kalian? Apakah setuju apabila keadaan yang kita alami belum bisa disebut overheating?atau sebaliknya?

KESIMPULAN        : Pemanasan ekonomi yang terjadi di Indonesia dirasa tidak begitu mengkhawatirkan karena masih berada dalam tahap gejala-gejala ringan. Hal itu dikarenakan Indonesia terkenal dampak dari krisis ekonomi yang terjadi diseluruh belahan dunia. Karena alasan global itulah Indonesia terkena dampaknya. Namun, gejala-gejala ini tidak bisa dibiarkan. Diperlukan tindakan preventif dan represif untuk memulihkan keadaan dan agar tidak semakin memperparah overheating.


SARAN                      :
Untuk mencegah overheating yang semakin parah diperlukan tindakan-tindakan untuk mencegah dan bahkan mengembalikan keadaan. Tindakan-tindakan tersebut antara lain:
1.      Mengurangi jumlah impor seperti impor barang-barang elektronik dan menekan ekspor agar neraca perdagangan tidak defisit
2.      Karena adanya krisis ekonomi di negara sasaran pemasaran hasil ekspor Indonesia, maka Indonesia harus mencari pangsa pasar lain yang memungkinkan barang-barang ekspor untuk dipasarkan.
3.      Memperkuat pangsa pasar domestik dengan mengajak masyarakat mengurangi konsumsi barang impor dan menggunakan produk lokal
4.      Meningkatkan investasi untuk bahan pangan sehingga kita bisa mengurangi impor bahan pangan seperti beras
5.      Adanya peran serta kebijakan politik
6.      Menambah mitra diluar negeri untuk memungkinkan dibangunnya kerjasama pemasaran produk

Rabu, 19 September 2012

Daftar Pembimbing Akademik Mahasiswa Baru Program Studi S1 Reguler & S1 Internasional TA.2012

Daftar Pembimbing Akademik Mahasiswa Baru Program Studi S1 Reguler & Internasional Tahun Akademik 2012/2013. Daftar lengkapnya dapat di dibawah ini


klik sini

Kamis, 30 Agustus 2012

Revisi Jadwal Perkuliahan Semester Gasal TH.2012/2013 Program S1 Reguler & S1 International FE UNSOED


Bagi mahasiswa baru maupun lama bisa mengunduh Jadwal Semester Gasal TH. 2012/2013 Program S1 Reguler dan S1 International Fakultas Ekonomi UNSOED yang berlaku mulai 10 September 2012 di bawah ini ;

Revisi Jadwal Terbaru Kamis, 30 Agustus 2012 !
Download DISINI


Sumber : http://fe.unsoed.ac.id/content/revisi-jadwal-perkuliahan-semester-gasal-th20122013-program-s1-reguler-s1-international-fe-u

Sri Mulyani Termasuk 100 Besar Wanita Paling Berpengaruh di Dunia


Mantan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati, kembali masuk dalam daftar 100 wanita paling berpengaruh di dunia versi majalah Forbes. Dalam daftar yang dikeluarkan Forbes pada Rabu (22/8/2012), Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menempati posisi ke-72.

Catatan ini menjadi yang keempat bagi Sri Mulyani sejak ia pertama kali masuk daftar 100 besar dunia versi Forbes pada 2008. Empat tahun lalu, Sri berada di posisi ke-23. Pada 2009, Doktor lulusan University of Illinois, AS, tersebut juga meraih prestasi yang sama dengan menempati urutan ke-71.

Namanya tak tercantum pada daftar 100 besar periode 2010. Namun, peraih penghargaan Menteri Keuangan terbaik Asia 2006 itu kembali masuk 100 besar dengan menempati posisi ke-65.

Urutan pertama dalam daftar 100 besar tahun ini ditempati oleh Kanselir Jerman Angela Merkel. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton berada di urutan kedua.

Sri Mulyani Indrawati telah menjabat sebagai Managing Director World Bank sejak Mei 2010. Ia menjalankan tugas mengawasi operasi Bank Dunia di Asia dan Afrika, Eropa, Amerika Latin, dan Timur Tengah. Ia juga memberikan perhatian khusus kepada negara-negara berpenghasilan menengah, seperti Indonesia dan negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China) sebagai sumber kekuatan ekonomi global. Ia juga dianggap berpengalaman menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi 2008 saat masih menjabat sebagai Menkeu.

sumber : kompas.com

Jumat, 10 Agustus 2012

Jurusan Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan FE UNSOED Gelar Kuliah Umum Ekonomi Islam


Jurusan Ilmu Ekonomi Studi & Pembangunan FE UNSOED kembali menggelar kuliah umum yang dibawakan oleh Dr. Gustian Djuanda, visiting lecturer dari Islamic Business School, college of Business Universiti Utara Malaysia ini membahas Prospek, Peluang dan Tantangan Ekonomi Islam. Kuliah umum ini dihadiri oleh sekira 200 orang peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa, dosen Fakultas Ekonomi dan para pemerhati ekonomi islam.
Dalam paparannya, Dr. Djuanda mengungkapkan bahwa saat ini prospek bisnis ekonomi islami berkembang dengan sangat baik, yang diantaranya mencakup bidang telekomunikasi, transportasi, pariwisata, lembaga keuangan dan spiritualisme. Diyakini pula bahwa kegiatan bisnis berbasis ekonomi islam akan terus berkembang dimasa yang akan datang. Ada satu bidang bisnis yang cukup menarik untuk dikaji yaitu bisnis di bidang spiritualisme. Bisnis ini muncul karena adanya tekanan kebutuhan manusia yang kompetitif yang menyebabkan mereka takut akan hari depan yang cerah di dunia ini sehingga diperlukan sentuhan spiritual untuk menenangkan jiwanya. Fenomena inilah yang menyebabkan bisnis yang melakukan pendekatan spiritualisme berkembang dengan sangat pesat, seperti Wisata Rohani, Bank Islam, Supermarket Islam dan Hotel Islam.
Masih dalam kuliahnya Dr. Djuanda juga menjelaskan peluang ekonomi islam di Indonesia diantara 80 negara di dunia yang telah mengakomodasi Bank Islam di dalam sistem moneternya. Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, pemerintah Indonesia memberikan kesempatan yang lebih luas bagi pengembangan perbankan syariah di Indonesia. Hal ini tertuang dalam Undang-Undang Perbankan no.10 tahun 1988 yang mengatur tentang adanya dual banking system. Kebijakan ini didasarkan pada beberapa pertimbangan diantaranya; 1. pengembangan perbankan syariah ditujukan untuk memenuhi kebutuhan golongan masyarakat yang memandang bank konvensional tidak sesuai dengan syariah yang mereka yakini, 2.krisis perbankan di tahun 1998 membuktikan bahwa bank syariah dapat bertahan di tengah gejolak nilai tukar dan tingkat bunga yang tinggi, 3.pengembangan perbankan syariah sebagai alternatif perbankan yang mempunyai keunggulan dan karakteristik tertentu, 4.pembiayaan perbankan syariah lebih didasarkan pada investasi riil dan sistem partisipasi, maka supply uang harus terkait dengan kebutuhan pelaku ekonomi riil.
Disamping prospek dan peluang ekonomi islam, Dr. Djuanda juga membahas tantangan yang ada dalam penerapan ekonomi islam. Pakar ekonomi islam ini menyebutkan setidaknya ada 5 hal yang menjadi tantangan ekonomi islam yaitu pertama Sumber Daya Insani yang belum memadai karena adanya dikotomi sistem pendidikan agama dengan pendidikan umum, kedua Jaringan Bank Islam yang belum menjangkau pelosok Indonesia, ketiga masih adanya persepsi masyarakat yang menganggap bank syariah sama saja dengan bank konvensional, keempat lambatnya proses sosialisasi karena adanya keterbatasan jaringan pelayanan perbankan syariah serta masih sedikitnya pusat kajian ekonomi islam dan terakhir adalah minimnya partisipasi organisasi masyarakat islam dalam pengembangan ekonomi islam.

sumber : unsoed.ac.id

Kamis, 26 Juli 2012

MP3EI dan Diplomasi Pangan


Ilustrasi. Foto: Corbis
Ilustrasi. Foto: Corbis
Bulan ini Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) alias rumusan penggerak roda perekonomian nasional yang menjadi andalan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) genap berusia satu tahun.

Melalui program ini, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang pesat bagi Indonesia sehingga pada 2025 diharapkan tercapai target pendapatan per kapita USD14.250-USD15.500 dengan nilai total perekonomian berkisar USD4,0 triliun–USD4,5 triliun.

Saat ini nilai total perekonomian Indonesia ada di kisaran USD770 miliar dengan pendapatan per kapita di kisaran USD3.000. Target-target tersebut digenjot melalui skema yang melibatkan mitra swasta.

Ada 22 jenis kegiatan yang dibidik, mulai dari pertanian, infrastruktur hingga pertambangan. Wilayah Indonesia bagian timur dan Sumatera termasuk yang sangat dipacu pertumbuhannya. Misalnya membangun bandara di Lombok, menetapkan areal seluas 1.200 hektare (ha) di Lombok bagian selatan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Nasional, membangun jalan dan pelabuhan trans-Maluku,serta membangun jalan tol dan jalur kereta api di Sumatera.

Saya ingin membahas MP3EI dalam hal perbaikan ketersediaan pangan. Dalam cetak biru MP3EI, arah yang dituju adalah ketahanan pangan. Dalam arti, Indonesia akan memanfaatkan keunggulannya untuk meningkatkan daya tawar dalam percaturan politik global terkait pangan, yakni dalam hal jumlah penduduk, jumlah orang muda, surplus jumlah penduduk berusia produktif, letak geografis yang strategis, ketergantungan dunia pada arus pelayaran yang melewati Indonesia, serta pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi.

Indonesia diharapkan berperan di tataran regional maupun internasional untuk menjadi lumbung pangan (dan air). Implisit di dalam target tersebut adalah keinginan melakukan swasembada walaupun arahnya bukan menutup diri, melainkan sebagai penyedia pasokan pangan bagi dunia.

Sejauh mata memandang, langkah ke sana belum optimal digarap. Pertama karena pendekatan diplomasi yang ada belum mengarah pada penciptaan gerakan tanam bersama di lahan bumi yang jumlahnya makin terbatas.

Lahan diperlakukan seolah-olah komoditas yang tak ada habisnya. Jika semua negara dibebaskan untuk secara swadaya melakukan pengelolaan lahan secara eksklusif, dalam kurun waktu 20 tahun mendatang sudah akan bermunculan negara-negara yang lebih miskin dari sekarang. Saat ini sejumlah negara seperti China, India, AS secara agresif mencari lahan-lahan subur di seluruh dunia untuk bercocok tanam dan beternak.

Hasilnya langsung diboyong ke negara masing-masing; penduduk setempat yang bercocok tanam dan beternak hanya bisa gigit jari. Kecenderungan saling rebut lahan ini tidak bisa disetop dengan skema-skema kerja sama internasional yang ada sekarang karena yang sekarang digarap adalah kerja sama perdagangan, pembuatan lumbung bersama, larangan proteksi, dan sejenisnya.

Semuanya tidak menyentuh esensi pangan sebagai barang publik (public goods). Karena lahan dan air adalah hak semua umat manusia, sebenarnya penggunaan barang tersebut oleh pihak lain tidak bisa dilarang (non-excludable) dan tidak boleh mengurangi kenikmatan pihak lain ketika menggunakan barang tersebut (non-rivalry). Artinya, perlu ada skema kerja sama multilateral dan regional yang mengarah pada penggunaan bersama lahan dan air untuk pertanian.

Biaya diatur terjangkau karena pemerintah melakukan subsidi melalui skema kerja sama dengan negara lain. Ada pula mekanisme untuk menggentarkan negara lain untuk sekadar numpang enak (free rider) meskipun tentu perlu ada harga khusus bagi negara-negara yang memang kurang mampu.

Artinya bahwa diplomasi perlu dibedakan pendekatannya untuk penyediaan produk pangan primer atau mentah. Beras, tebu, buah-buahan, sayur-mayur, gandum, biji-bijian, misalnya, adalah produk pangan primer yang menjadi hak semua orang di bumi.

Teknologi untuk mengelola kecukupan panen produk ini sebenarnya tidak bisa dipagari dengan hak paten karena pada akhirnya ini menyangkut kecukupan panen bagi sesama manusia. MP3EI perlu memikirkan konsekuensi dari kebutuhan diplomasi produk primer pertanian ini seperti mekanisme menjaga tata ruang dan wilayah dan kontrak pemanfaatan lahan oleh pihak asing. Ini tidak boleh salah langkah dan jelas bukan semata soal penyediaan infrastruktur fisik seperti fokus MP3EI sekarang.

Kedua, diplomasi perlu mengakomodasi masa depan agrobisnis yang cerah dan menggiurkan. Agrobisnis adalah usaha untuk meningkatkan nilai jual produk-produk pertanian melalui pengolahan dan pengembangan forward linkages (bisnis terkait yang berkembang karena ada agrobisnis, misalnya bisnis kargo, pembuatan kemasan, asuransi). Saat ini agrobisnis cenderung dikonotasikan kuno sehingga ditinggalkan oleh generasi muda.

Padahal negara-negara yang populasinya menua tidak punya cukup sumber daya manusia untuk mengolah lahan pertanian. Ke depan, agrobisnis adalah sektor usaha yang sangat menjanjikan. Maklum, permintaan akan produk pangan pasti meningkat terus seiring bertambahnya populasi dunia.

Jadi, ketersediaan pangan sangat bergantung pada kemampuan mengolah produk pangan primer menjadi ragam produk yang sehat, tahan disimpan, bergengsi atau praktis kemasannya, dan bisa dinikmati penduduk dunia di mana pun.

Karenanya ruang agrobisnis perlu digenjot dan bukannya dicekik dengan aturanaturan nonproteksi atau antisubsidi. Pengembangan agrobisnis membutuhkan investasi besar, terutama di bidang penelitian dan pengembangan (R&D).

Saat ini satu investasi bidang R&D untuk produk pangan umumnya baru menghasilkan profit setelah 15 tahun. Bayangkan bila beban ini harus ditanggung oleh sektor swasta saja. Proyek MP3EI perlu memfasilitasi pengembangan R&D ini, lengkap dengan jejaring sektor swasta yang siap mengembangkan hasil-hasil penelitian menjadi produk-produk pangan bernilai jual tinggi.

Ketiga, Kementerian Negara Lingkungan Hidup serta instansi terkait bidang pelestarian lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) perlu memperbaiki cara komunikasinya agar bisa dipahami dan diterima pelaku agrobisnis dan rakyat biasa.

Penantang kita adalah negara seperti Brasil yang sudah menerapkan 100 persen praktik pertanian dan perkebunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan hidup.

Standar mereka diakui secara internasional, bahkan oleh Eropa dan Amerika Serikat. Kalau Indonesia masih sekadar defensif ketika dikritik bahwa praktik pertanian atau perkebunannya tidak ramah lingkungan, kita justru akan kehilangan respek dari dunia internasional. Karena fitur Kementerian Negara Lingkungan Hidup memang belum memungkinkannya untuk punya "kaki tangan" sampai ke tingkat komunitas dan kabupaten/kota, pemerintah pusat perlu membuat jembatan melalui instansi pemerintah lain yang punya ”kaki tangan".

Ke depan, pertanian dan perkebunan wajib dikelola secara modern. Dalam banyak hal, arahnya adalah intensifikasi modal. Jadi dibutuhkan pembinaan intensif agar petani (besar maupun kecil) tidak mengambil jalan pintas yang tidak ramah lingkungan.

MP3EI belum punya roh pembaruan sampai ke arah sana. Padahal masuknya pihakpihak baru ke daerah yang jauh dari pengawasan pemerintah pusat akan berisiko tinggi disalahgunakan, apalagi praktik ramah lingkungan tadi belum mengakar. Arah pandang diplomasi pangan kita perlu lebih jauh ke depan.

Taruhan kita adalah diri kita sendiri di masa tua dan generasi anak kita. Bila MP3EI tidak kita manfaatkan secara optimal untuk mengubah cara pandang dunia, swasta, dan komunitas, hasilnya pun tidak akan optimal.

DINNA WISNU
Direktur Pascasarjana Bidang Diplomasi, Universitas Paramadina
SUMBER : okezone.com

MAHASISWA?


MAHASISWA?
Oleh: Herlambang WIbowo
Hanya itukah ilmu mu?
Belajar untuk melempar batu…
Di tengah jembatan kau adu uratmu…
Sesama saudara membunuh tanpa malu…
Hanya itukah ilmu mu?
Meneriakkan kata setia dengan jiwa…
Namun melepasnya dalam sekejap mata…
Dan lihatlah pendahulumu di ’98…
Mereka berdarah….berkorban…
Tumbangkan rezim tegakkan reformasi…
Dan lihat dirimu…
Yang darahnya tertumpah sia-sia..
Tanpa guna suatu apa..hanya derita dan jerit tanpa nyawa…
Hai kau di sana!!!!!
Masihkah kau mengaku mahasiswa?!

Food Security


Ilustrasi. (Foto: Corbis)
Ilustrasi. (Foto: Corbis)
Bila dua-tiga bulan lalu bangsa ini heboh membicarakan energy security, sebulan terakhir kita sibuk membicarakan pangan. Food dan energy adalah sebuah kesatuan, apalagi sekarang bahan-bahan pangan mulai dijadikan pengganti energi.

CPO, kedelai, biji bunga matahari, jagung, tebu, ketela, gandum, dan sebagainya kini di dunia mulai dialihkan menjadi bioenergy yang harganya terus melonjak. Kalau harganya terus melonjak, dan sebagian besar tanaman itu bisa ditanam di sini, mengapa justru mengalami kerawanan?

Kalau pertanian Indonesia ingin maju, berikanlah keuntungan yang positif dan harga jual yang bagus bagi produk-produk pertanian Indonesia. Ini berarti, batasi impor dan jangan manjakan konsumen. Tetapi, kita sepertinya ingin mendapatkan keduanya: pertanian maju, tetapi harganya harus murah dan konsumen harus senang.

Surplus, tetapi Miskin
Ketahanan pangan menjadi masalah besar justru di negara-negara Asia, yang menurut Bank Dunia mengalami pengurangan kemiskinan yang signifikan. Menurut FAO (2009), sepanjang 2003-2005 saja terdapat 541,9 juta penduduk Asia yang kekurangan gizi. Mengapa pertumbuhan ekonomi disertai kerawanan pangan? Ambil contoh saja di Thailand dan Vietnam yang mati-matian mengembangkan konsep ketahanan pangan sejak 30 tahun lalu. Di kedua negara ini sektor pertanian mengalami kemajuan sangat pesat.

Berbeda dengan di Pulau Jawa yang lahan-lahan pertaniannya beralih ke properti dan industri, di kedua negara itu lahan-lahan pertanian justru diperluas dan irigasi diperbaiki. Keduanya surplus pangan dalam jumlah besar.Pada tingkatan makro, pertaniannya maju pesat. Namun, pada tingkatan rumah tangga, para petani tetap kesulitan hidup dengan layak dari sektor pertanian. Mereka lebih menjadi net buyeryang hanya bisa membiayai sepersepuluh konsumsinya dari hasil pertanian (Isvilonanda & Bumyasiri, 2009).

Demikianlah, pangan adalah masalah yang sangat serius, semakin kompleks dan butuh perhatian lintas sektoral. Tidak cukup diatasi oleh penghapusan bea masuk seperti yang dilakukan pemerintah terhadap impor kedelai. Pangan adalah masalah ketahanan yang rumit. Konsep pertahanan-keamanan yang dulu berarti tentara dan senjata, kini bergeser ke pangan dan energi. Lihatlah betapa kita kedodoran mengelola ketahanan pangan yang menyangkut apa saja.

Tahun lalu cabai saja sampai menjadi agenda pembicaraan yang hangat di Istana. Lalu dalam perekonomian kita muncul masalah daging sapi, gula, garam, ikan kembung, beras, bahkan bawang merah. Kini kedelai. Sebanyak 150 ribu anggota koperasi tahu-tempe hari-hari ini tengah melakukan aksi mogok ketika harga kedelai melonjak dari Rp5.000 menjadi Rp8.000 per kilogram.
Meski semalam saya masih bisa menikmati tahu-tempe, ada rasa waswas, bukan khawatir kehilangan keduanya, melainkan khawatir anak-anak kita kelak akan kesulitan makan karena negeri ini tak memiliki konsep ketahanan pangan yang jelas.

Semakin Kerdil

Selain data yang sudah banyak dipaparkan para ahli, mari kita membaca insight berikut. Menurut kamus, insight adalah a clear or deep perception of a situation. Atau bisa juga perasaan subjektif yang bisa dibaca dari sebuah situasi. Namanya juga subjektif, jadi bisa terbaca, bisa juga tidak. Bisa terbaca A, bisa juga terbaca B. Tetapi, mari kita renungkan baik-baik,dan coba lebih gunakan insight untuk melihat peluang yang mungkin timbul dari masalah besar ini daripada memperbesar masalah itu sendiri.

Kata orang bijak, bangsa-bangsa yang unggul adalah bangsa yang bisa melihat kesempatan dari setiap kesulitan. Pemenangnya adalah bangsa yang berani berselancar dalam gelombang ketidakpastian. Sedangkan bangsa yang selalu kalah adalah bangsa pengeluh yang hanya mau menjelajahi dunia yang pasti-pasti, lalu menyalahkan orang lain atas masalah yang ia buat. Bangsa yang demikian akan selalu kalah, dan pemimpinnya gemar melempar kesalahan pada orang lain.

Ketimbang mengatakan, "Saya yang salah." Mereka akan selalu mengatakan, "Itu bukan kesalahan saya." Sudah salah dan menyangkal, mereka pun mengulangi kesalahan yang sama berkali-kali. Saya kira tulisan ini tidak dimaksudkan menghadirkan keluhan atau sikap pecundang. Insight dari Dapur Rumah Makan Sunda tempat saya biasa menikmati makan enak menunjukkan, ada sesuatu yang tak beres pada pangan-pangan kita.

Berbeda dengan bangsa-bangsa lain yang berupaya keras menghadirkan buah-buahan dan sayuran yang lebih besar dan lebih manis, saya justru menemukan pangan lokal yang sebaliknya. Kedelai impor semakin hari semakin bagus, sedangkan kedelai lokal semakin kuntet. Petai padi yang dulu besar-besar, kini semakin mengecil. Demikian juga dengan ikan pepes (ikan peda) yang dulu besar-besar, kini hanya daun pembungkusnya saja (daun pisang) yang besar.

Rasanya semua ini berlaku pada hampir semua panganan kita. Kue pisang juga semakin kerdil dan pisangnya sepat. Sekalipun makannya di hotel berbintang lima. Bakso yang dijajakan keliling juga semakin kecil, dan rasa dagingnya semakin tak terdeteksi lidah. Kata pemilik restoran bukan hanya ukuran yang mengecil. Keharumannya juga berkurang. Saya berbicara dengan para petambak ikan.

Mereka pun mengaku alam dan pakan sekarang sudah tidak bersahabat. Air dari sungai sudah rusak, pencemaran luar biasa ganas karena pabrik celana jins yang beroperasi tidak jauh dari tambak sering membuang limbah pewarna ke sungai. Ikan-ikan sulit menjadi besar. Di Waduk Jangari-Cirata saja, yang menjadi pusat ikan mas Jawa Barat, sudah dikepung oleh sampah. Lebih mengerikan lagi, harga pakan ikan pun sudah terlalu mencekik.

Maka supaya bisa tetap untung panen pun dipercepat. Itu pulalah yang tampaknya dilakukan petani (termasuk petai dan cabai), memanen hasil tanaman lebih cepat dari yang seharusnya agar bisa meraih untung. Apalagi akibatnya kalau bukan kuntet? Sementara di dunia internasional, perubahan iklim bisa mengubah peta suplai secara tiba-tiba. Kalau sudah begini, bangsa yang menang hanyalah bangsa yang proaktif.

Artinya, menanam jauh-jauh hari. Bukan seperti sekarang, ribut menanam kedelai pada ribuan hektare saat harganya sedang mahal. Lalu apa akibatnya dua tiga bulan lagi saat panen beramai-ramai? Insight ini menunjukkan, pertanian sudah tidak lagi menjadi sektor yang gurem. Pertanian justru akan menjadi sektor yang mengalahkan sektor-sektor lainnya. Apa artinya mempunyai emas kalau tak bisa mendapatkan makan?

Tetapi dalam masa transisi jelaslah suatu bangsa harus bisa menciptakan kondisi hasil investasi (internal rate of return) pada sektor pertanian yang positif. Saat ini saja dunia perbankan cenderung alergi pada sektor pertanian. Ini berarti diperlukan perubahan kebijakan agar petani mau kembali menjadi petani. Syaratnya, ya sederhana saja, berikan IRR yang positif dan besar.

Saya ingin menutup dengan insight lain dari para pedagang pangan. Bagi mereka, kenaikan harga adalah wajar, tetapi khusus mulai 2012, kenaikan pangan yang biasa terjadi bulan Ramadan kini bergerak jauh lebih cepat satu sampai dua bulan sebelumnya. Lebih jauh lagi, bila sebelum 2005 dari 365 hari berdagang mereka kalah sebanyak 80 hari (karena cost lebih besar dari price), sejak 2005 ke sini hari kekalahan terus membesar dan membesar.

Tahun ini telah menjadi 150 hari kalah. Masih positif sih.Tetapi, itu lampu kuning yang sebentar lagi menjadi merah. Artinya, ada masalah yang harus kita benahi bersama. Artinya, food kita sedang tidaksecure. Artinya, selain banyak masalah, ya banyak peluang.

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

SUMBER : okezone.com

Kamis, 28 Juni 2012

Kalender Akademik 2011/2012


PRASEMESTER GENAP 2011/2012
1 13Januari 2012 Penyerahan data prediksi mahasiswa  yang terancam DO
2 16- 31 Januari 2012 Pembayaran biaya pendidikan & Registrasi
3 31 Januari 2012 Batas akhir pengajuan permohonan aktif kembali
4 31 Januari 2012 Batas akhir pengajuan cuti akademik
5 13-17Pebruari 2012 Konfirmasi & Entri Prasyarat Sistem Informasi Akademik dari Fak/Program Studi, terdiri dari dosen PA, peralihan Dosen PA, Kelas/Matakuliah/Mengajar Dosen, status mhs cuti/meninggal (oleh fak), Lulus & DO (oleh Universitas)
6 16Jan – 24Pebruari2012 Kuliah Kerja Nyata
7 17Pebruari. 2012 Verifikasi data KRS danPembayaran Biaya Pendidikan Semester Genap 2010/2011
8 13 – 29 Peb 2012 Pengisian KRS dan Penyerahan KSM ke Subbagian Akademik dan Kemahasiswaan fakultas
9 1– 2 Maret 2012 Pencetakan Daftar hadir  dari sistem
10 29  Pebruari 2012 Batas akhir pendaftaran wisuda periode ketiga tahun akademik  2011/2012
    SEMESTER GENAP 2011/2012
1 5Maret - 22Juni 2012 Periode kuliah, Praktikum, Ujian Tengah Semester, Semester Genap 2011/2012
2 5– 9 Maret 2012 Perubahan matakuliah dan Penyerahan KSM Perubahan
3 5  -  23Maret 2012 Pembatalan Matakuliahdan penyerahan KSM Pembatalan
4 9Maret  2012 Penyerahan data valid mhs DO
5 16  Maret 2012 Penerbitan SK DO
6 20-Mar-12 Wisuda periode ketiga tahun akademik  2011/2012
7 7– 11  Mei 2012 Pemilihan Mahasiswa, Akademisi dan tenaga Kependidikan Berprestasi  2012
8 28 Mei – 1 Juni 2012 SNMPTN (tentatif)
9 1 Juni 2012 Batas akhir pendaftaran wisuda periode keempat tahun akademik  2011/2012
10 19Juni 2012 Wisuda periode keempat tahun akademik  2011/2012
11 25 Juni – 6 Juli 2012 Ujian Akhir Semester
12 23– 27 Juli 2012 Periode Ujian SPMB Lokal
13 Juli – Agustus 2012 Semester pendek (bila dipandang perlu)
14 20 Juli2012 Batas akhir Penyerahan Nilai  Mata Kuliah  semester Genap2011/2012 ke Sub Bagian Akademik dan Kemahasiswaan
15 6 – 17 Agustus 2012 Pembagian KHS

Kamis, 21 Juni 2012

Menuju Kursi Orang Nomor Satu di FE UNSOED


[unsoed.ac.id, Rabu, 20/6/12] Fakultas Ekonomi menggelar sosialisasi tata cara penjaringan bakal calon dekan untuk periode 2012-2016, tepatnya di aula gedung Roedhiro Lt. 3 (Kamis,14/06/2012). Sosialisasi ini dihadiri oleh Dr. Nurul Anwar, MS, Ph.D, Dekan FE UNSOED, Pembantu Dekan I, Pembantu Dekan II, Pembantu Dekan III, Ketua Program Studi S1, Ketua Program Studi D3, para dosen, staf administrasi dan para civitas akademika Fakultas Ekonomi UNSOED. Diadakan penjaringan ini untuk menampung aspirasi para dosen tetap Fakultas Ekonomi UNSOED.
“Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan ada pemahaman yang sama untuk bersama-sama memilih Dekan yang cocok untuk Fakultas Ekonomi dengan harapan sama, semoga bisa memajukan lebih baik Fakultas Ekonomi UNSOED“, ungkap Bapak Dekan Dr. Haryadi, M.Sc saat memberikan sambutannya. Ada 30 kandidat dekan yang nantinya bakal dipilih oleh para dosen untuk menduduki kursi dekan ungkap Drs. Achmad Sudjadi, M.Sc, Ph.D selaku ketua panitia penjaringan bakal calon dekan Fakultas Ekonomi UNSOED. Adapun kriteria dan persyaratan calon dekan Fakultas Ekonomi UNSOED periode 2012-2016 yang paparkan oleh Ketua Panitia adalah :
  1. Calon adalah dosen tetap pada FE UNSOED yang berijazah minimal Magister.
  2. Menduduki jabatan sekurang-kurangnya Lektor Kepala.
  3. Usia tidak lebih dari 61 tahun pada saat pencalonan.
  4. Tidak sedang melaksanakan tugas belajar/studi lanjut, kecuali yang sudah diserahkan kembali kepada FE UNSOED.
  5. Menyatakan secara tertulis bersedia untuk dicalonkan menjadi Dekan FE UNSOED periode 2012-2016.
  6. Sudah menjadi dosen pada FE UNSOED sekurang-kurangnya selama 10 tahun.
  7. Mempunyai nilai DP3 sekurang-kurangnya “baik” untuk semua umur penilaian dalam dua tahun terakhir.
Calon dekan nantinya akan ditetapkan melalui Rapat Senat Fakultas, yang khusus diselenggarakan untuk kepentingan tersebut. Rentetan acara Penjaringan Balon dekan dimulai pada hari Rabu, 20 Juni 2012 (Pukul: 08:30-12:00), penghitungan suara (Pukul: 13:00-14:00) dan penyerahan surat kesedian bagi balon yang termasuk dalam tiga besar perolehan suara (Pukul: 14:00-16:00). Dr. Oman Rusmana selaku wakil ketua panitia penjaringan calon dekan menyampaikan bahwa sosialisasi penjaringan bakal calon dekan ini merupakan prosedur yang telah disepakati oleh panitia dan senat untuk mengatasi terjadinya kecolongan dalam berbagai hal.
Acara ini berlangsung dengan hangat, hal terbukti dari antusiasnya para undangan yang mengajukan pertanyaan saat sesi tanya jawab dibuka oleh Drs. Rakhmat Priyono, ME selaku moderator. Dari ke 30 calon dekan yang dipilih menjadi 3 bakal calon dekan yang terpilih dan akan diajukan kedalam rapat senat, BEM selaku dari perwakilan mahasiswa mengharapkan ada pemaparan atau diskusi dengan segenap elemen dosen dan civitas akademika dari 3 bakal calon yang telah terpilih, hal ini juga diungkapkan sama oleh salah satu dosen saat sesi diskusi. Hal ini langsung ditanggapi dengan baik oleh panitia, dimana panitia ini dipilih oleh ketua senat dengan salah satu kriteria panitia tidak masuk dalam kategori bakal calon dekan atau bukan calon dekan.
Besar harapan dari Dr. Haryadi, M.Sc selaku dekan FE UNSOED bahwa apapun keputusan dari rapat senat nantinya, semoga menghasilkan keputusan bakal dekan yang cocok dari yang terbaik dengan jamannya untuk memajukan bersama Fakultas Ekonomi UNSOED.

Kamis, 14 Juni 2012

Foto Baksos 2012














































NEts 2012


National Economics Events
Serangkaian acara National Economics Events (NEts 2012) yang tahun ini diselenggarakan bersamaan dengan Seminar Nasional Jurusan IESP telah lancar dilaksanakan pada tanggal 6-7 Juni 2012 kemarin. Serangkaian acara NEts kali ini diawali dengan acara Lomba Karya Tulis Ilmiah yang diikuti oleh universitas-universitas se-Indonesia. Mereka yang telah lolos menjadi 8 besar dengan proses seleksi yang ketat diberi kesempatan untuk mempresentasikan karya tulis ilmiahnya didepan 3 juri yang berkompeten di bidangnya. Mereka bersaing secara sehat dan benar-benar memaksimalkan kemampuan dan pengetahuan mereka tentang karya tulis yang mereka buat. Setelah acara LKTI selesai para delegasi diajak mengikuti field trip dengan menggunakan bus Unsoed menuju museum BRI dan tempat kedua yaitu menuju lokawisata Baturraden. Esok harinya yang merupakan tanggal 7 Juni 2012, masih ada satu rangkaian dengan Nets 2012 diadakan Seminar National Jurusan dengan tema “Pertumbuhan Ekonomi Inkslusif dalam Upaya Penciptaan Lapangan Kerja di Indonesia”. Seminar ini diselenggarakan dengan tujuan menambah wawasan tentang kondisi lapangan kerja di Indonesia sekarang ini. Topik dibahas oleh pembicara dari praktisi-praktisi pendidikan yang memang berkompeten di bidang ekonomi pembicara pertama yaitu Drs. Nurul Anwar Ph.D dan pembicara kedua adalah Prof. Dr. Fx Sugianto yang mengupas tuntas tentang topic pembahasan yang sesuai dengan tema Nets 2012 kali ini. Acara dilanjut dengan diskusi dan ditutup oleh pembacaan pemenang LKTI yaitu,  Juara 1 : Delegasi dari Universitas Sebelas Maret yang berhak mendapat hadiah Rp. 3.500.000 dan juara 2, delegasi dari Universitas Brawijaya Malang dan yang ketiga adalah Universitas Jenderal Soedirman.
Semoga NEts tahun depan dapat dikemas dengan lebih menarik dan dapat memperluas wawasan kita.

BEASISWA BFI FINANCE


BEASISWA BFI FINANCE SAHABAT DALAM BERPRESTASI
Bantuan biaya pendidikan hingga Semester IX • Biaya SKS • Uang saku per Semester • Uang Buku per Semester • Satu Kali Biaya Skripsi atau Tugas Akhir


Pendaftaran terakhir paling lambat tgl 12 juni 2012 dan wajib hadir bagi calon penerima beasiswapada kuliah umum yang akan dilanjutkan dengan psikotest yang dilaksanakan tanggal 14 juni 2012 diruang kuliah 10 FISIP pukul 08.00 - selesai.



Persyaratan :

Mahasiswa / Mahasiswi Warga Negara lndonesia.
Fakultas Ekonomi (semua bidang studi).
lndeks Prestasi Kumulatif IPK minimal 3,00 untuk rninimal 2 semester berturut-tunut.
Beasiswa mulai diberikan untuk yang tengah menjalani minimal semester lV (empat) dan maksimal Semester Vl (enam)

Tidak sedang menerima beasiswa dari lembaga atau instansi lain.
Prioritas bagi mereka dengan tingkat ekonomi keluarga kurang mampu dibuktikan dengan slip gaji/penghasilan orang tua /wali atau surat keterangan lainnya.

Lulus seleksi yang diselenggarakan BFI Flnance: Psikotes, Wawancara dan pemeriksaan Kesehatan
Memiliki potensi kepemimpinan.
Setelah lulus, BERSEDIA menjalankan ikatan dinas untuk bekerja di BFI Finance selama 3 (tiga) tahun dan ditempatkan di kantar cabang BFI Finance seluruh lndonesia.
Untuk info selengkapnya, silahkan download attchment di bawah ini :
download
sumber : www.bfi.co.id
http://ceac.unsoed.ac.id/content/beasiswa-bfi-finance-sahabat-dalam-berprestasi